Terlambat Tobat

I

Gemerisik daun oleh angin hitam
berguguran ke tanah basah.
Langit gemetar menumpahkan halilintar.
Bumi bergetar melontarkan bebatuan.

Antara bumi dan langit jarak membentang
Panjang.
Antara keinginan dan kenyataan jurang menganga
Lebar.

“Siapa yang lebih maksiat dibandingkan kau,
kau seorang?”

“Bukan aku, itu bukan aku”

Siapa yang lebih tidak tobat dibandingkan kau,
kau seorang?”

“Bukan aku, itu bukan aku!”

II

Di balik cahaya pasti ada gelap yang tersimpan.
Tapi di balik kegelapan belum tentu ada cahaya.

Pernahkah kita membayangkan?
Di dalam gelapnya perut ikan
Yang berada di gelapnya lautan dalam
Pada saat pekatnya gelap malam.

Aku pernah,
bahkan mungkin lebih dari itu.

Sebab di masa muda terkandung
jiwa yang menggelora.
Kuturuti jiwaku dari satu pelampiasan
menuju pelampiasan berikutnya.
Dari satu kegelapan menuju
kegelapan berikutnya.

Kuturuti jiwaku!
Jiwaku yang menggelora karena nafsu
dan tak kunjung puas juga!

III

Setan terkutuk pernah berkata
ketika diusir dari surga:
“Kemudian aku pasti akan mendatangi mereka
dari depan, dari belakang,
dari kanan, dan dari kiri mereka.

Dan Engkau, Tuhan, tidak akan mendapati mereka bersyukur!”

IV

Bau tanah yang menghimpitku
semakin menusuk, dari hari ke hari
tubuhku semakin membusuk,
dari jiwa ke jiwa aku bertanya-tanya:
dengan apa orang-orang mengenangku?

Aku bergetar ketakutan!
Aku mengeja kehinaan!
Aku mendidih kepanasan!
Aku teriak kesakitan!

Aku menangis dalam air mata
yang tak lagi punya makna.