Bagaimana Bersikap Terhadap Senior Bermasalah?

UMAT BERTANYA FORKAMAN MENJAWAB

Assalamu’alaikum wr. wb. Ustadz yang saya hormati, saya bersyukur bisa terus aktif dalam kegiatan dakwah. Terutama kegiatan penggalangan masyarakat di sekitar rumah saya untuk tetap aktif mengikuti majelis taklim. Namun, ada masalah yang saya anggap kurang mengenakkan perasaan saya. Di antara penggerak majelis taklim tersebut, ada teman saya yang bisa dibilang senior. Tapi, akhir-akhir ini ia kurang aktif dalam penggalangan.

Masalahnya, kalau sedang rapat koordinasi ia begitu dominan. Sering perdebatan yang tidak perlu menjadi panjang. Bahkan, ketua panitia pun merasa sulit mengendalikan senior saya itu. Padahal, secara status, ia juga seorang anggota panitia seperti saya.

Ustadz, bagaimana sikap saya menghadapi senior tersebut. Terus terang, kami sungkan menegur. Tapi, kalau tidak ditegur, akan jadi masalah yang menghambat kegiatan dakwah di lingkungan kami. Atas perhatian dan jawaban Ustadz, saya ucapkan jazakumullah khairan katsira.

Wassalamu’alaikum wr. wb.
Abdurrahman,  Medan

Jawaban:

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudara Abdurrahman yang dimuliakan Allah, pertama, saya berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala semoga Dia senantiasa menjaga semangat, amal, dan aktivitas yang kami dan Anda lakukan, dan juga dilakukan oleh orang-orang semisal Anda.

Kedua, saya berdoa semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan taufiq, hidayah, kekuatan, ketabahan, dan jalan yang benar dalam menghadapi berbagai tantangan dan masalah dakwah. Marilah kita bersama-sama mengingat surat Al-Insyirah [94]: 5 – 6.

Dalam dua ayat tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menyebut kata al-‘usr (kesulitan) dua kali, dan dua-duanya dalam bentuk ma’rifat (menggunakan hamzah dan laam). Juga menyebut kata yusran (kemudahan) dua kali pula, dan kedua-duanya dalam bentuk nakirah (tidak menggunakan hamzah dan laam).

Para ulama tafsir mengatakan, hakikat al-‘usr dalam dua ayat itu adalah satu, sedangkan hakikat yusran adalah dua, sehingga ada riwayat menyatakan, “Betapapun ada kesulitan yang menimpa seseorang, niscaya setelah itu Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan jalan keluar dan kemudahan darinya. Sebab, sesungguhnya satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” (Imam Al-Hakim berkata, riwayat ini adalah riwayat yang shahih dari perkataan Umar bin Al Khaththab dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma).

Yang ingin saya katakan adalah betapapun Anda menghadapi berbagai kesulitan, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan berikan kepada Anda jalan keluar dan kemudahan darinya.

Saudara Abdurrahman dan para netters di mana pun berada, perlu kita ketahui bahwa dalam Islam yang menentukan bukanlah senioritas semata, atau istilahnya as-sabaqiyah. Akan tetapi, as-sabaqiyah itu akan sangat berarti di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan dalam pandangan Islam, manakala dibarengi oleh ash-shidqiyyah (sejauh mana seseorang membuktikan kebenaran keimanan, ke-islam-an dan ke-senior-annya dengan amal-amal nyata.

Dalam surat At-Taubah [9]: 100, Allah subhanahu wa ta’ala menyanjung sisi as-sabaqiyah (senioritas) ini dan menjanjikan keberuntungan dan surga bagi mereka yang mengikutinya. Hal ini karena mereka adalah orang-orang yang telah banyak berjasa dan berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala dengan segala macam pengorbanannya. Hal ini bisa kita simak dari keterangan ayat lain yang berbicara tentang kaum Muhajirin dan Anshar, yaitu di surat Al-Hasyr [59]: 8–9. Dan pada surat Al-Hasyr [59]: 8 ini, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa hal itu terkait dengan sifat shidiq yang ada pada mereka: “ulaika humush-shadiqun”, mereka itulah orang-orang yang benar. Jadi, as-sabaqiyah semata tidaklah cukup jika tidak dibarengi oleh ash-shidqiyyah.

Hal ini sangat penting untuk kita ingat, agar kita semua tidak terkecoh dan terkena ghurur atau ‘ujub atas kesenioran kita, na’udzu billah min dzalik. Yang harus selalu menjadi perhatian kita adalah sejauh mana kita merealisasikan sifat ash-shidqiyyah kita.

Tentang hubungan antara senior dan junior secara umum, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membuat kaidah yang sangat indah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan termasuk dari kami seseorang yang tidak menyayangi yang kecil dan tidak mengenali kemuliaan yang besar.” Dalam riwayat lain: “dan tidak menghormati yang besar”. Dalam riwayat lain: “dan tidak mengenali hak yang besar” (hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Tirmidzi dan Al Hakim).

Oleh karena itu, saya sarankan kepada para senior, hendaklah kita menyayangi para kunior. Kita harus memandang dan menyikapi mereka dengan sikap rahmah dan kasih sayang, sebagaimana rahmah dan kasih sayang seorang ayah dan ibu kepada anak-anaknya.

Sebaliknya, kita para junior haruslah menempatkan para senior sebagai orang-orang yang mempunyai hak untuk kita muliakan dan kita hormati. Segala bentuk diskusi, syura (penyaluran aspirasi dan gagasan formal) dan istisyarah (penyaluran aspirasi, gagasan informal) haruslah selalu dijiwai oleh spirit rahmah (kasih sayang) terhadap si kecil (baca: junior) dan tauqir (penghormatan) kepada si besar (baca: senior). Dua sifat ini harus kita usahakan agar selalu ada dan terwujud, kalau kita menginginkan tetap diakui sebagai bagian dan umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Satu hal lagi yang perlu kita ingat adalah tentang bahaya perdebatan, yang dalam bahasa Islam disebut jidal atau jadal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak tersesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan hidayah, kecuali karena kaum itu mendapatkan kemampuan jadal atau jidal”. (Hadits hasan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Saudara Abdurrahman dan para netters di mana pun berada, perlu kita ingat (baik kita sebagai senior maupun junior) bahwa berorganisasi, rapat, berkoordinasi bukanlah untuk berdebat dan adu “otot” ilmu dan kepiawaian kita dalam mengolah kata. Akan tetapi, organisasi, rapat dan koordinasi itu dimaksudkan untuk menghimpun berbagai pendapat, menyaringnya, dan memilih yang terbaik, baik menurut sudut pandang syar’i maupun menurut sudut pandang waqi’ (realita) serta sejauh mana pendapat dan pandangan yang terbaik itu qabil lit-tanfiidz (bisa dilaksanakan).

Oleh karena itu, saya menyarankan kepada diri saya sendiri dan kepada Anda, agar saat kita melakukan syura, kita selalu mengingat surat Ali Imran [3]: 159 yang menjelaskan bahwa sebelum perintah syura (wa syawirhum fil amri), terlebih dahulu harus tercipta suasana dan iklim lembut, tidak kasar, tidak keras hati, sifat pemaaf dan memperbanyak istighfar (meminta pengampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala).

Sebagai penutup tanggapan saya, dan sekaligus sebagai jawaban atas pertanyaan Anda, saya ceritakan kisah berikut ini: Suatu kali, Hasan dan Husain, dua orang putra Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, melihat seorang tua yang tidak baik dalam berwudhu. Keduanya ingin menasihati orang tua itu. Akan tetapi keduanya masih kecil, sedangkan yang akan dinasihati adalah orang tua. Akhirnya keduanya bersepakat untuk mendekati orang tua itu, lalu berkata, “Paman, saya dan adik saya berbeda pendapat tentang cara berwudhu yang baik dan benar, dan kami tidak menemukan kata sepakat, oleh karena itu, kami meminta paman untuk melihat cara kami berwudhu, lalu paman memberikan penilaian.”

Lalu keduanya berwudhu dengan pengawasan orang tua tadi. Selesai keduanya berwudhu, orang tua itu mengatakan, “Wudhu kalian berdua itulah yang benar dan baik, dan wudhu saya-lah yang salah dan tidak baik, dan terima kasih atas nasihatnya yang baik”.

Demikian. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjaga diri kita dan dakwah kita ini, amin.

Follow us: @forkaman